PEMBUATAN MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG) DENGAN PROSES FERMENTASI

Monosodium Glutamat



 Mikroorganisme pada Fermentasi MSG
Mikroorganisme
Fungi
Aspergillus terrus
Micrococcus glutamicus "VNII Genetika" 490
Micrococcus glutamicus "VNII Genetika" 3144
Suhu operasi (0C)
23-32
25-32
28-30
28-30
Waktu fermentasi
(jam)

24-96

48-90

60-65

30-40
Pemisahan H2G
Ekstraksi
Ekstraksi
Resin
Resin
Kondisi
Aerob
Aerob
Aerob
Aerob
Produk H2G (gr/L)
40
40
Yield H2G (%)
84
86
Kemurnian MSG (%)
99
99


 Kondisi Proses Fermentasi
Kondisi
Pertumbuhan
Fermentor
pH
7
7,3.
Suhu

32
Waktu (jam)
18
30-40
Lingkungan
Aerob
Aerob
Hasil
Optical density 600
Original Broth Glutamic Acid (OBGA)


Tahapan Proses Fermentasi
  1. Pembuatan Monosodium Glutamat (MSG)

Salah satu cara pembuatan monosodium glutamat (MSG) adalah dengan cara fermentasi. Proses fermentasi terjadi karena adanya aktivitas bakteri yang menghasilkan asam glutamat. Bakteri tersebut digunakan untuk memecah glukosa pada TCM menjadi asam glutamat. Reaksi yang terjadi selama proses fermentasi adalah :
C6H12O6+NH3+3/2O2  B.Lactofermentum  C5H9O4N +CO2+3H2O
Pada proses ini juga ditambahkan bahan pembantu fermantasi yaitu amonia (NH3) sebagai sumber N pada media fermentasi dan juga berfungsi sebagai kontrol pH, H2PO4 sebagai sumber phosphat (P) pada media, dan juga ditambahkan antifoam sebagai zat pemecah buih yang dihasilkan pada proses fermentasi. Pada tahap ini juga dilakukan aerasi, yaitu dengan mengalirkan oksigen ke dalam fermentor. Asam glutamat yang terjadi dari proses fermentasi ini, kemudian ditambahkan soda (Sodium karbonat) atau NaOH, sehingga akan terbentuk MSG. MSG ini kemudian dimurnikan dan dikristalisasi sehingga menghasilkan serbuk kristal yang murni yang siap dijual. 
Substrat adalah media pertumbuhan dan pembentukan produk yang dibutuhkan mikroorganisme. Dalam fermentasi Monosodium Glutamat (MSG), substratnya adalah tetes tebu (molase). Molase dipilih karena mudah untuk dicari dan murah harganya. Molase merupakan hasil samping dalam industri gula tebu.
         
          2.3.1 Molase
          Sifat-sifat fisika dan kimia :
Wujud                               : Cairan coklat
Warna                                : Coklat kehitam-hitaman
Densitas                            : 1.47 gr/mL
Viscositas                          : 4.323
Cp Panas Spesifik             : 0.5 Kkal/Kg °C
Komponen dalam molase :
Gula                                  : 62 %
Air                                     : 20 %
Non Gula                          : 18 %
2.3.2 Bahan Pendukung
Bahan pendukung digunakan pula sebagai bahan pembantu dalam proses produksi. Bahan pendukung yang digunakan adalah :
a. H2SO4
b. NH3
c. HCl
d. NaOH
e. Defoamer (CC 222)
f. H3PO4,Urea, dan MgSO4
g. Penisilin
h. Dextrose
i. Aronvis
j. Karbon Aktif
Mikroorganisme (mikroba) merupakan jasad-jasad renik yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun dapat dilihat dan dipelajari dengan menggunakan mikroskop. Mikroba berperan penting dalam proses fermentasi, yaitu untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Oleh karena itu, dalam pemilihan organisme harus selektif, untuk mencapai kualitas dan kuantitas yang tinggi.
Untuk membuat MSG dengan cara fermentasi, digunakan mikroba yang dapat mengubah substrat menjadi asam glutamat. Asam glutamat ini kemudian diproses lagi sehingga menjadi MSG.  Mikroba-mikroba yang dapat mengubah substrat menjadi asam glutamat yaitu seperti Micrococcus glutamicus ("VNII Genetika" 490 dan 3144) ,dan Aspergillus terrus. Mikroba-mikroba tersebut adalah mikroba aerob yaitu mikroba yang hidup pada lingkungan non oksigen. Perbedaan dari mikroba diatas dalam proses fermentasi MSG dapat digambarkan dengan tabel sebagai berikut.
Tabel 1. Mikroorganisme yang berperan dalam pembuatan MSG
Sumber : US patent April, 11,1972, 2.655.746 & US patent Oktober, 18, 1977. 054.487
Berdasarkan data tersebut maka pada proses pembuatan MSG ini dipilih mikroorganisme glutamicus "VNII Genetika" 3144, dikarenakan :
1.        Yield H2G yang dihasilkan lebih besar
2.        Waktu fermentasinya lebih singkat
Proses fermentasi  memanfaatkan mikroorganisme baik untuk katalis ataupun penghasil produk. Proses ini membutuhkan beberapa perlakuan khusus, seperti pengaturan pH, suhu,  lingkungan yang aerob/anaerob, serta aerasi dan agitasi. Perlakuan ini di maksudkan untuk menghasilkan kondisi proses yang optimum. kondisi proses fermentasi pembentukaan MSG oleh mikroba Micrococcus glutamicus dapat digambarkan dengan tabel sebagai berikut.
Table 2. Pengaturan kondisi proses fermentasi
Pada proses pembuatan MSG dengan menggunakan proses fermentasi., dilalui 5 tahapan yaitu:
1.      Penyiapan substrat molasses
Tetes yang akan dipakai untuk proses akan mengalami perlakuan treatment, yaitu pemberian tetes dari kotorannya maupun unsur-unsur yang tidak dikehendaki seperti kalsium (Ca2+). Pada industri pengolahan pertama-tama, molasses, HDC (hasil decanter), beet molasses, H2SO4 dan air dicampurkan di dilution tank. Penambahan H2SO4 pada proses pencampuran ini bertujuan sebagai kontrol pH. Nilai pH yang diinginkan untuk tetesan adalah 2.9-3.0. Selain itu, penambahan H2SO4 yang dimaksudkan untuk mengikat ion Ca2+ yang terdapat pada tetes. Kandungan Ca2+ pada tetes merupakan impurity yang harus dihilangkan karena dapat menggangu proses kristalisasi MSG. H2SO4 yang berikatan dengan Ca2+ akan membentuk CaSO4 (gypsung) yang disebut sludge.
Kondisi proses ini diatur pada suhu 55°C dengan pH bahan 2.9-3.00 dan kekentalan 26-26.5°Be. Kekentalan ini dikontrol dengan penambahan  atau pengurangan jumlah air dengan penambahan tetes dan sebaliknya jika terlalu kental maka perlu penambahan air.
Setelah melalui dilution tank, campuran tetes tersebut dialirkan kedalam tanki settling. Proses settling ini berlangsung dalam 3 buah tangki yang bekerja secara kontinyu dan setiap tangki dilengkapi dengan pengaduk. Dilanjutkan dengan proses aging bertujuan mengoptimalkan reaksi pengikatan Ca2+ oleh H2SO4. Proses aging ini terdiri dari 7 tangki yang dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada H2SO4 mengikat Ca2+ semaksimal mungkin.
Setelah itu dibentuk sludge pada in line mixer, pada proses ini ditambahkan aronvis yang dilarutkan dengan air. Pengiriman aronvis ke in line mixer dengan bantuan oleh udara. Aronvis merupakan bahan flokulan untuk membentuk flok CaSO4 agar terkumpul menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga proses pemisahan dapat berlangsung lebih sempurna. Sludge akan mengendap sedangkan campuran tetes berada diatas sludge. Campuran tetes yang telah terpisah dari sludge disebut dengan cairan overflow. Cairan overflow yang telah terpisah dari sludge masuk dan ditampung kedalam tangki overflow sedangkan sludge masuk kedalam tangki mixer-1. Sisa-sisa yang telah terpisahkan membentuk sedimen dan kemudian masuk ke tangki mixer-1 dan bercampur dengan sludge dari tangki thickener-1.
Cairan yang telah bersih dari sisa flok disebut HSP (hasil separator) dan mengandung impurity (kotoran) kurang dari 1% dan siap untuk digunakan dalam proses fermentasi. Tetes feeding emudian dilewatkan pada heat exchanger untuk proses sterilisasi. Proses ini terjadi pada suhu 120. Selain tetes feeding, media fermentor sebelum masuk ke fermentor lulus dilewatkan pada heat exchanger terlebih dahulu untuk sterilisasi.
2.      Pembiakan mikroba
Dilakukan pembiakan bakteri asam glutamat di laboratorium mikrobiologi. Tahapan yang dilakukan antara lain:
1.      Persiapan peralatan
2.      Inokulasi bakteri pada media slant (media agar padat)
3.      Inokulasi pada media agar cair
3.      Pertumbuhan Mikroba
Proses pertumbuhan mikroba dilakukan di tangki seeding. Tangki seeding ini mirip tangki fermentor tapi lebih kecil volumnya. Di tangki ini bakteri dibiarkan berkembang biak dengan baik sekaligus penyesuaian bakteri dengan pengaduk, alat pendingin, pemasukan udara, dan lain-lain.
Proses yang dilakukan pertama kali adalah sterilisasi tangki fermentor yang disebut sterilisasi kosong, kemudian media (tetes feeding) dan bahan-bahan penunjang dialirkan masuk ke dalam tangki. Setelah media dan bahan-bahan penunjang tersebut dialirkan masuk dilakukan sterilisasi media pada suhu 120.
Setelah proses sterilisasi selesai, dilakukan cooling (pendinginan) sampai suhu mencapai 32. Proses cooling dilakukan oleh chiller bersuhu kurang dari 20 yang ditempatkan mengelilingi tangki fermentor. Setelah suhu cooling tercapai, dilakukan inokulasi bakteri asam glutamat yang berada dalam media cair dan terjadi proses pertumbuhan bakteri.
Pada proses ini dilakukan pengontrolan pH, Cell Value, dan OD (Optikal Densitas). pH yang diinginkan adalah netral dan dikontrol dengan penambahan . Untuk CV, diinginkan nilai lebih besar dari 6 yang akan dapat diperoleh pada waktu 18 jam fermentasi serta OD yang diinginkan adalah 600.
4.      Proses Fermentasi
Seperti halnya pada proses pertumbuhan di tangki seeding, fermentor harus disterilisasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Setelah sterilisasi bahan yang berupa , vitamin, dan fish juice dialirkan masuk dan diikuti dengan tetes feeding. Pada tahap ini tidak diperlukan sterilisasi media karena media telah dilewatkan pada heat exchanger terlebih dahulu sebelum masuk ke fermentor.
                        Setelah media masuk, inokulum dari tangki seeding dimasukkan dan dilakukan penambahan   sebagai kontrol pH agar tetap netral dan untuk menambah suplai oksigen. Pada tahap ini juga dilakukan aerasi yaitu dengan mengalirkan oksigen ke dalam fermentor. Aerasi diperlukan untuk member suplai oksigen pada bakteri sebab bakteri asam glutamat merupakan bakteri yang bersifat aerobik. Selain itu, jika proses fermentasi secara anaerobik yang akan menghasilkan bentuk senyawa lain, misalnya asam laktat. Hal ini sangat tidak diinginkan terjadi pada proses fermentasi asam glutamat.
                        Proses fermentasi ini berlangsung selama ±30 jam, pada suhu 32 dan pH 7.3 hasil yang diperoleh dari proses fermentasi ini adalah cairan Original Broth Glutamic Acid (OBGA). Reaksi yang terjadi di dalam proses fermentasi ini yaitu:
               +      +   3/2    +     +   3
             glukosa          ammonia      oksigen                                               asam glutamat   karbondioksida   air



Gambar 1. Diagram alir dan cara kerja bakteri
-     Pengambilan glutamat; Setelah fermentasi selesai ± 30-40 jam cairan hasil fermentasi yaitu Original Broth Glutamic Acid (OBGA) dipekatkan untuk mengurangi kadar airnya kemudian ditambahkan HCl untuk mencapai titik isoelektrik pada pH ± 3,2.
-     Netralisasi atau refining, pada tahapan ini dilakukan pencampuran NaOH.
-     Kristalisasi asam glutamat.
-     Tahap lanjutan pereaksian asam glutamat dengan NaOH sehingga terbentuk monosodium glutamat liquor.
-     Decolorisasi atau penjernihan warna menggunakan karbon aktif.
-     Kristalisasi monosodium glutamat, menghasilkan kristal monosodium glutamat yang masih mengandung liquor.

-     Pengeringan kristal monosodium glutamat dengan menggunakan Rotary dryer sehingga didapatkan serbuk kristal Monosodium glutamat yang mempunyai kemurnian tinggi ± 99,7 %.

1 komentar:



Tommy mengatakan...

Menjual berbagai macam jenis chemical untuk wtp, wwtp, STP Ipal bakteri nutrien dll untuk info lebih lanjut tentang produk ini bisa menghubungi kami di email tommy.transcal@gmail.com
Mobile:081310849918

Posting Komentar